Keberhasilan Konservasi Arwana dari Danau Empangau

Diposting : adminfiranda • Kamis, 27 Des 2012 22:05 • Dilihat 320
Share via :

-


Pelepasan bibit ikan arwana ke Danau Empangau Kab. Kapuas Hulu. photo:Doc

PONTIANAK.BCC--Konservasi in-situ arwana di Danau Empangau, Kapuas Hulu, setiap tahunnya berhasil memamen rata-rata 32 anakan ikan mahal itu. Padahal, sejak 2004, indukan arwana yang dilepasliarkan di danau itu tak lebih dari 31 ekor.

Usaha penangkaran Arwana sebenarnya bukan hal baru. Selain dilakukan sebuah perusahaan swasta di Kalimantan Barat, “budidaya” ikan eksotis juga dilakukan di banyak tempat. Termasuk di kawasan Cibubur, Jakarta. Namun, apa yang terjadi di Danau  Empangau, Desa Empangau, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, ini terbilang luar biasa.

Sepanjang Oktober–Desember 2012 ini, masyarakat setempat berhasil memanen 35 ekor anakan arwana berukuran rata-rata lima centimeter. Artinya, mereka membukukan dirinya sebagai kawasan paling sukses dalam upaya konservasi in-situ jenis ikan yang bernama latinScleropages formosus ini.

Dan, tak pelak, prestasi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya ekosistem habitat ikan hias bernilai ekonomis tinggi itu di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Maklum, sepanjang 2004-2012, indukan yang dilepasliarkan di salah satu dari 22 danau lindung di Kapuas Hulu itu tak lebih dari 31 ekor – termasuk delapan indukan yang dilepaskan Pemkab Kapuas Hulu bersama WWF-Indonesia, Juni 2012, sebagai upaya restocking. Dengan kata lain, setahunnya tak lebih dari 4 ekor indukan yang dilepasliarkan di danau tersebut.

“Ini salah satu indikator bahwa hutan sebagai sumber mata air di bagian hulu Danau Empangau dan kualitas perairan di sekitar danau masih terjaga. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem hutan secara utuh juga semakin meningkat,” ujar  Hermayani Putera, Manajer Program Kalimantan Barat, WWF-Indonesia melalui surat elektroniknya yang diterima di Pontianak, Kamis 27 Desember 2012.

Panen anakan arwana periode ini berlangsung dari bulan Oktober 2012 hingga April 2013, dan kemungkinan masih akan ada peningkatan jumlah panen anakan yang diperoleh masyarakat. “Kita selalu menyambut baik dan mendukung inisiatif dari masyarakat untuk upaya-upaya konservasi, seperti di Desa Empangau. Ini adalah wujud konkret dari penerapan green economy dan Kabupaten Konservasi di tingkat lapangan,” katanya.

Selain inisiatif lokal, peran pemerintah dalam upaya konservasi jenis dan habitat arwana di Kapuas Hulu juga menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan dalam upaya-upaya konservasi yang dilakukan bersama masyarakat.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu sedang bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Sistem Inovasi Daerah (SIDa) untuk memaksimalkan potensi sumberdaya alam yang ada. Salah satunya di sektor perikanan.

Untuk mendorong upaya tersebut lebih lanjut, Bupati Kapuas Hulu mengeluarkan SK Bupati Nomor 289 Tahun 2012 tentang Pembentukan Tim Koordinasi, Kelompok Kerja, dan Kesekretariatan Penguatan Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Kapuas Hulu.

Peran pemerintah melalui Kelompok Kerja (Pokja) Industri Pengolahan Ikan Kabupaten Kapuas Hulu yang tertuang dalam SK tersebut, diharapkan dapat mendorong agar efektifitas pengelolaan danau lindung dan hasilnya lebih meningkat, khususnya terkait dengan upaya-upaya konservasi Arwana.

Sementara itu, Kepala Desa Empangau, Juniardi, menyebut tahun ini ada peningkatan harga jual anakan arwana, dari sekitar Rp 3 juta di tahun sebelumnya menjadi sekitar Rp 4 juta per ekor. Sekitar 10 persen dari manfaat yang diperoleh nelayan dikembalikan ke kas desa untuk kepentingan komunal, terutama pembangunan sarana dan prasarana desa.

Juniardi mengatakan, jumlah panen yang diperoleh nelayan tahun ini lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Harapan kita, dengan kian bertambahnya jumlah indukan yang ada di Danau Empangau, ke depan akan lebih banyak lagi jumlah anakan yang bisa dipanen.

Muaranya, kesejahteraan masyarakat lebih meningkat dan upaya konservasi jenis arwana juga bisa berkelanjutan,” ujar Juanairdi, yang tahun lalu warga desanya meraih penghargaan nasional sebagai juara pertama pengelolaan swadaya masyarakat terhadap kelestarian satwa dan fauna di sekitar Danau Empangau. (amp)

 

Copyright © LPSAIR 2014 - Borneoclimatechange

Komentar :