Tangkap Pencuri Telur Penyu, Dipidanakan

Diposting : heriyanto • Kamis, 01 Des 2012 09:42 • Dilihat 215
Share via :

Pontianak.BccSejumlah elemen masyarakat Paloh dan Mahasiswa Untan mendesak agar Yanto alias Anong dibebaskan dari segala dakwaan. Desakan muncul pada sidang kedua kasus penganiayaan yang didakwakan kepada Anong di Pengadilan Negeri Sambas, Kalimantan Barat, Kamis (29/9/2012).

Elemen masyarakat yang tergabung dalam Solidaritas untuk Anong ini menilai telah terjadi kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan hidup di Paloh. Anong bekerja sebagai Monitoring Assistant WWF-Indonesia Program Kalbar. Dia bertugas menjaga keselamatan penyu dari ancaman pemburu di Pantai Paloh, Sambas.

Kasus yang menimpa Anong terjadi pada 5 Agustus malam. Saat itu, dia beserta dua rekannya, masing-masing Redy (Monitoring Assistant WWF) dan Andy (anggota Kelompok Masyarakat Pengawas Kambau Borneo) sedang menjalankan tugas monitoring di pantai peneluran penyu di wilayah B Sungai Ubah. Di kawasan ini, sarang telur penyu kerapkali raib.

Malam itu, sekitar pukul 19.00 WIB, tim monitoring memantau tiga warga dengan berkendara satu sepeda motor. Ketiganya mendekati penyu yang sedang melakukan ritual gali sarang. Oleh tim monitoring, mereka juga terpantau sedang menghapus jejak kaki penyu di pantai. Ini bertujuan agar pengawas tidak mengetahui keberadaan penyu yang hendak bertelur itu.

Tak berselang lama, tim langsung memergoki ketiga warga tersebut dan menanyakan ikhwal keberadaan mereka di pantai. Saat itu juga, dialog malam antar-kedua belah pihak mulai memanas. Bahkan, dialog berujung perkelahian antara Anong dan salah seorang warga bernama Irwan.

Buntutnya, Irwan mengalami luka pada bagian kepala dan harus menjalani perawatan medis di Pos Kesehatan TNI Pengaman Perbatasan Kostrad 305. Keluarga Irwan tidak terima dengan perlakuan Anong. Melalui pamannya, Hamdy, yang juga seorang Babinsa Desa Sebubus, meminta uang kompensasi kepada manajemen WWF sebesar Rp10 juta. Pihak WWF menolak permintaan itu dengan alasan akan menjadi preseden buruk bagi perjuangan konservasi penyu di kemudian hari.

Gayung pun bersambut. Anong dilaporkan ke Kantor Kepolisian Sektor Paloh dengan tuduhan penganiayaan. Ayah dua anak ini kemudian dijebloskan ke Rumah Tahanan Kelas 2 B Sambas pada 7 November 2012 hingga kasusnya bergulir ke pengadilan.

Namun fakta lain perlahan terungkap dalam persidangan kedua di Pengadilan Negeri Sambas, 29 November lalu. Tuduhan penganiayaan mulai kabur setelah para saksi, termasuk Irwan sebagai pelapor mengaku membalas pukulan Anong. Irwan juga mengaku lebih dahulu mengibaskan tangannya ke arah Anong.

Begitu pula dengan fakta lain di mana seluruh saksi mengaku ke pantai Paloh dengan niat mencuri telur penyu untuk kepentingan konsumsi. Begitu pula Hamdi, dalam keterangannya di depan majelis hakim yang dipimpin Horasman Boris Ivan itu mengaku telah meminta uang kompensasi sebesar Rp10 juta kepada manajemen WWF. Karena permintaan ditolak, upaya damai kedua belah pihak mengalami jalan buntu. Kasus pun diteruskan ke ranah hukum.

Berdasarkan fakta-fakta persidangan itu, Koordinator Solidaritas untuk Anong, Muraizi meminta majelis hakim untuk adil dalam memutuskan perkara ini. “Kami minta Anong dibebaskan dari segala dakwaan karena seluruh keterangan saksi bertolak belakang dengan laporan yang masuk ke kepolisian. Kembalikan nama baik Anong,” begitu ucapnya.

Manager Program Kalbar WWF-Indonesia Hermayani Putera mengatakan upaya perlindungan terhadap penyu di Paloh adalah tugas semua pihak karena ia jelas diatur undang-undang. “Jadi kehadiran kami di sini untuk mengawal proses hukum yang berjalan agar keadilan dapat ditegakkan,” katanya.

Hermayani juga menjelaskan, kehadirannya dalam persidangan kedua ini sebagai komitmen untuk mengawal seluruh tahapan sidang dan mendengar keterangan dari para saksi, terdakwa, serta pihak lainnya. “Semoga dengan keterangan yang semakin banyak itu, majelis hakim dapat memutuskan perkara ini dengan baik dan adil. Anong bagi saya adalah simbol sekaligus representasi dari upaya kita bersama dalam menjaga lingkungan hidup,” pungkasnya. (hry)

Copyright © LPSAIR 2014 - Borneoclimatechange

Komentar :