Perusahaan Ingkar , Truk dan TBS Ditahan Warga

Diposting : admin • Senin, 24 Mar 2012 • Dilihat 163
Share via :

Ketapang, Borneoclimatechange.org. Ketidak jelasan sistem bagi hasil antara warga dan perusahaan Perkebunan  Kelapa Sawit PT LS, membuat warga Desa Pelang Kec. Matan Hilir Selatang Kab. Ketapang. ketidakjelasan akan bagi hasil yang memebuat warga mengambil sikap dengan menahan truck yang bermuatan TBS(Tandan Buah Segar) dan menumpakannya ke jalan perusahaan.

PT Limpah Sejahtera telah beroprasi di Desa Sui Pelang sejak tahun 2008 dan telah melakukan kegiatan konversi seperti pembukaaan lahan dan penanaman tanaman kelapa sawit pada tahun 2009,membagun koprasi dengan nama koprasi pelang sejahtera pada tahun 2009, dengan skema bagi hasil 80-20%, PT LS Memiliki luas kawasan konsesi seluas 16.000 ha dengan 80-90% berada pada kawasan ekosistem gambut. 

Penahanan truck untuk mengangkut hasil produksi kebun menyebabkan terhentinya kegiatan pemanenan diwilayah perkebunan. Menurut Ridwan (Manajer Area PT Limpah) buah yang di panen kemudian ditahan oleh warga adalah buah perdana atau buah pertama dari perkebuanan dan belum memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Menurut Junaidi Anggota DPRD Kabupaten Ketapang,  bahwa adanya perusahaan seharusnya dapat membuat warga desa menjadi sejahtera bukan menimbulkan konflik ditengah warga. 

“bahawa sewaktu ijin perusahaan diterbitkan tentu sudah memiliki peta luasan kawasan yang akan di bangu dan memiliki data jumlah pohon yang ada di perkebunan jadi tidak mungkin bila bila perusahaan tidak mengetahui berapa besaran yang harus dibagikan kepada warga,”Kata Junaidi. “Ini terjadi pembohongan public bila alasan perusahaan harus menunggu pemantau indenpenden yang menyatakan kebun layak atau tidak untuk beroprasi,”Jelas Junaidi.

Sementara menurut Tarno dari Dinas Perkebunan Kab. Ketapang, Menurut Tarno (dinas perkebunan) bahawa bagi  Namun Pernyataan Tarno kembali di sanggah oleh Junaidi,  bahwa perusahaan harus mampu memfasilitasi jangan  menunggu waktu 48 bulan masyarakat harus mendapatkan kompensasi dan perusahaan harus memperbaiki komunikasi ke masyarakat melalui koprasi.

Menurut Ridwan, Manajer Area PT LS,  buah yang di panen kemudian ditahan oleh warga adalah buah perdana atau buah pertama dari perkebuanan dan belum memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Ada beberapa alasan mengapa warga belum bisa menerima hak dari bagi hasil itu tersebut di antaranya, pertama, buah adalah buah pertama dari pohon yang biasa di sebut buah pasir, kedua, bila buah tidak di panen maka akan mendatangkan gulma pada kebun, ketiga, panen merupakan latihan proses pemanenan bagi karyawan agar lebih terlatih untuk memanen buah, keempat, Hasil panen tidak menutupi untuk cos atau pengeluran biaya produksi yang harus dikeluarkan perkebunan, dan kelima, tata batas desa yang belum jelas menyebabkan pihak perusahaan belum berani untuk membagi hasil dari hasi pemanenan. 

Iskandi ketua koprasi pelang sejahtera mengatakan,  “bahwa koprasi pelang sejahtera  selama 3 tahun atau selama koprasi terbentuk, semenjak perusahaan beroprasi tidak pernah mendapatkan laporan perkembangan perusahaan dan surat ajakan untuk berkoordinasi juga tidak pernah mendapatkan respon dari perusahaan baik dari area cabang pelang maupun Pontianak.

“sangat menyayangkan sikap perusahaan yang tidak terbuka dan tidak pernah melakukan koordinasi kepada masyarakat untuk perkembangan perkebunan dan cenderung menutupi kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan,Kata Iskandi. Iswandi menyayangkan, keseriusan serta komitment perusahaan yang beroprasi dilahan masyarakat, kecurigaan masyarakat semakin menjadi karna belum adanya koparsi yang jelas dengan kepengurusan yang jelas karna menurut warga koprasi di buat warga berdasrkan penunjukan langsung oleh pihak perusahaan tanpa melibatkan masyarakat.(Arie)   

Copyright © LPSAIR 2014 - Borneoclimatechange

0 Komentar :

Nama
Email
Website
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)