Strategi Adaptasi dan Mitigasi sebagai Upaya Mengatasi Permasalahan Air di Kota Pontianak

Diposting : admin • Kamis, 22 Mar 2012 10:59 • Dilihat 402
Share via :

-


Gambar:Barrage Long Storage Kesediaan Air di Kota Pontiank

Perubahan iklim ternyata dapat mengurangi persediaan air perkotaan secara signifikan dan bisa mempengaruhi permintaan air. Dengan ketidakpastian iklim di masa depan, perencanaan terhadap penyediaan dan permintaan air memerlukan sebuah proses adaptasi (Fane, 2010). Penyediaan air minum dan layanan sanitasi sangat penting bagi kesehatan manusia. Setelah dievaluasi, ketahanan sistem air bersih dan sanitasi terhadap perubahan iklim (dengan perkiraan tahun 2020 dan 2030), memperlihatkan bahwa sangat sedikit teknologi yang tahan terhadap perubahan iklim dan keberlanjutan terhadap kemajuan saat ini terhadap target MDGs (Howard dkk, 2010).

Air sangat penting untuk kehidupan. Namun berdasarkan data yang didapat, diketahui bahwa 884 juta orang masih belum memiliki akses ke air minum dengan baik, dan 2,6 miliar orang tidak memiliki akses untuk meningkatkan sanitasi.

Perang/permasalahan air pertama kali terjadi di Mesopotamia 3.000 tahun yang lalu dan berakhir dengan kesepakatan air pertama,  yang memungkinkan untuk berbagisumber daya air. Hukum harus dianggap sebagai komoditas yang memfasilitasi kerja sama, memainkan peran penting dalam mencegah konflik air dan menghormati hak-hak terhadap air pada masyarakat.

Sebagai contoh kasus, Kota Pontianak yang merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Barat, sering mengalami permasalahan air bersih. Padahal dengan tiga julukan, yakni Kota Khatulistiwa, Kota seribu Parit, dan Kota Tepian Sungai, Pontianak memiliki letak geografis yang sangat strategis menuju Kota Metropolitan Pontianak.

Saat ini, sumber air baku yang digunakan PDAM Kota Pontianak berasal dari Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Dari segi kuantitas, ketersediaan air baku cukup berlimpah, namun dari segi kualitas, sumber air baku Kota Pontianak terancam intrusi air laut pada tahun normal dan tahun kering di musim kemarau. 

Selain itu, air tanah di Kota Pontianak merupakan air gambut yang berwarna dan bersifat asam. Pada kondisi eksisting, di musim kemarau tahun normal, intake air baku di Kota Pontianak terintrusi air laut. Sehingga pengambilan air baku dialihkan ke daerah hulu, di Intake Cadangan Penepat, yang ada di Sungai Landak, berjarak sekitar 24 Km Kota Pontianak (IPA Imam Bonjol). Sehingga PDAM Pontianak memerlukan biaya yang cukup besar.

Hal ini diakibatkan karena keterbatasan dimensi pipa transmisi Intake Cadangan Penepat ke IPA Imam Bonjol. Selain itu juga karena adanya keterbatasan dari daya dukung lingkungan setempat.

Di kawasan Kuala Mandor menuju ke Parit Adam, pipa transmisi yang ada di dalam tanah akan melalui suatu kawasan tanah gambut yang memiliki sifat asam yang sangat tinggi dan pH rendah, akibatnya pipa transmisi berjenis DCIP (Ductile Cast Iron Pipe) yang notabene tidak tahan terhadap korosif dan erosi, menjadi berkarat dan bocor.

Apalagi di kawasan tersebut juga ada bakteri besi yang juga menyebabkan kebocoran pipa. Sehingga air baku yang semula ditansmisikan sebesar 400 liter/detik hanya dapat sampai di IPA Imam Bonjol sebesar 300 liter/detik. Padahal pada kondisi normal, kapasitas total IPA yang ada di Kota Pontianak adalah sebesar 1.210 liter/detik. Akibatnya, PDAM Pontianak hanya bisa melayani sebesar 30% dari pelanggan PDAM, meskipun biaya untuk mendapatkan air baku sudah cukup besar (PDAM Pontianak, 2009).

Bisa dikatakan bahwa pemerintah tidak berhasil dalam menjamin ketersediaan air baku di Kota Pontianak. Padahal air minum dan air bersih sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, baik dari segi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.  

Adapun strategi adaptasi yang bisa dilakukan yakni dengan Revitalisasi Intake Penepat. Yakni dengan mengadakan pergantian pipa transmisi Penepat ke IPA Imam Bonjol, baik berupa peningkatan dimensi pipa dan juga pergantian jenis pipa transmisi yang lebih adaptif terhadap daya dukung lingkungannya. Perlu dilakukan perhitungan yang cermat mengenai dimensi pipa yang bisa memenuhi kebutuhan air bersih penduduk Kota Pontianak pada musim kemarau.

Selain itu, strategi adaptasi lainnya adalah dengan pemakaian sistem Reverse Osmosis (RO). Reverse osmosis merupakan proses pemurnian air yang menghilangkan 95-99% dari kebanyakan air kontaminan termasuk mikroorganisme, senyawa organik, dan senyawa anorganik terlarut. Proses reverse osmosis menggerakkan air dari konsentrasi kontaminan yang tinggi (sebagai air baku) menuju penampungan air yang memiliki konsentrasi kontaminan sangat rendah.

Oleh karena itu, dibutuhkan strategi perencanaan sumber air baku Kota Pontianak yang adaptif terhadap daya dukung alam/lingkungan kawasan pesisir Kapuas (sumber air baku sangat berwarna pada musim hujan pada iklim basah dan terancam intrusi pada musim kemarau), sehingga dapat memenuhi kebutuhan air minum Kota Pontianak dari segi kualitas, kuantitas, kontinuitas sepanjang tahun, dan harga kompetitif serta dalam rangka meningkatkan pelayanan infrastruktur air minum yang berkelanjutan.

Sistem ini berupa pembuatan Barrage (Bendung) di Sungai Ambawang dan membuat kanal dari sungai Landak menuju sungai Ambawang (supplesi), hal ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas air sungai Ambawang. Barrage berfungsi sebagai pencegah salinitas, sekaligus mengatur ketersediaan air baku untuk Pontianak dan sekitarnya. Intake untuk kota Pontianak dibuat di lokasi Barrage, jarak (panjang pipa) ke IPA Imam Bonjol lebih kurang 5 km, sehingga biaya pengoperasian akan lebih murah.

Perencanaan sistem penyediaan air bersih yang menggunakan air baku dari barrage long storage di Sungai Ambawang, dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi konsumen di kawasan Kota Pontianak, baik dari segi kapasitas, kontinuitas, kuantitas, maupun kualitas. Dengan adanya barrage long storage di Sungai Ambawang diharapkan bisa menyediakan air baku yang tidak terintrusi air laut. Dengan adanya strategi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi PDAM Kota Pontianak untuk peningkatan pelayanannya.

Yang perlu diperhatikan adalah adanya fenomena bahwa rambatan intrusi air laut terlihat semakin ke daerah hulu dan frekuensi kejadian intrusi air laut pada intake air baku semakin meningkat. Hal ini juga mengancam keberlangsungan sistem pengaplikasian Barrage Long Storage Ambawang. Diharapkan intrusi air laut tidak mencapai pintu suplesi di Sungai Landak. Intrusi air laut sangat tergantung pada karakteristik estuari, pasang surut, dan sebit sungai. Semakin besar tinggi pasang surut dan semakin kecil debit sungai, maka intrusi air laut akan semakin jauh.

Yang perlu diperhatikan adalah adanya fenomena bahwa rambatan intrusi air laut terlihat semakin ke daerah hulu dan frekuensi kejadian intrusi air laut pada intake air baku semakin meningkat. Hal ini juga mengancam keberlangsungan sistem pengaplikasian Barrage Long Storage Ambawang. Diharapkan intrusi air laut tidak mencapai pintu suplesi di Sungai Landak. Intrusi air laut sangat tergantung pada karakteristik estuari, pasang surut, dan sebit sungai. Semakin besar tinggi pasang surut dan semakin kecil debit sungai, maka intrusi air laut akan semakin jauh.

Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menjaga hutan. Sebagian besar air di dunia berasal dari daerah tangkapan yang alami atau hutan. Ada hubungan yang erat antara hutan dan kualitas air yang keluar dari daerah tangkapan air. Hutan sering menjadi dasar untuk pengelolaan terpadu sumber daya air. Patut diketahui bahwa pengetahuan tentang jenis dan umur pohon, kondisi tanah dapat membantu menentukan jenis kebijakan pengelolaan hutan akan paling bermanfaat. Hilangnya tutupan hutan dan konversi penggunaan lahan dapat mempengaruhi pasokan air, mengancam kelangsungan hidup jutaan orang dan tentunya merusak lingkungan.

Pengelolaan hutan memiliki dampak penting terhadap kualitas air. Ada banyak studi tentang dampak dari pengelolaan hutan terhadap kualitas air, yang umumnya menunjukkan bahwa sedimen meningkat setelah adanya penebangan kayu, tetapi dengan adanya pengelolaan hutan membantu mengurangi kerusakan ini.

Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama dari semua pihak dalam mengatasi permasalahan air. Akademia harus bergabung dan bekerja pada solusi yang praktis untuk menjawab permasalahan ini. Masyarakat sipil juga memiliki peran penting, terutama

ketika lembaga-lembaga dan undang-undang tidak menjamin mereka. Pemerintahan yang menangani air merupakan kunci dari solusi ini. Oleh karena itu, praktisi hukum dan ilmuwan

juga harus bekerja sama dan saling membantu, serta membantu politisi terhadap pengakuan dan pelaksanaan hak terhadap air bagi masyarakat banyak. Dengan adanya upaya adaptasi dan mitigasi yang strategis yang memperhatikan aspek lingkungan, keilmuan, sosial, dan hukum, diharapkan bisa mengatasi permasalahan air di Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia.        Oleh:Laili Fitria ST.MT

Copyright © LPSAIR 2014 - Borneoclimatechange

Komentar :